Loading...
You are here:  Home  >  Noumenon & Phenomenon  >  Current Article

Perubahan Iklim dan Pemanasan Global: Yang Percaya Real vs. Yang Tidak Percaya Ini Benar Terjadi

By   /  August 3, 2019  /  1 Comment

    Print       Email

Kita Mulai dari contoh Perang Kapitalisme vs Sosialisme

Menjelang akhir dari tahun 2008, ketika kapitalisme tersungkur di kaki “realitas kehidupan”, saya sudah paham benar apa artinya kapitalisme secara pikiran, perkataan maupun perbuatan. Ada banyak orang menolak, berpikir mereka tidak setuju dan menulis banyak tentang kejelekan dan kebusukan kapitalisme, tetapi mereka sendiri menjalani hidup, berperilaku dan berpikiran kapitalis.

Mengapa sebuah “ideologi” yang begitu besar dan menakutkan banyak orang, terutama kita di Tanah Papua itu tersungkur begitu saja?

Jawabannya Karl Marx sendiri sudah mengatakannya ratusan-tahun lalu: kapitalisme akan melakukan tindakan bunuh diri, dan ia akan tersungkur. Pandangan ini sudah lama ditentang oleh orang-orang kapitalis, tetapi terbukti di mata-kepala kita.

Nah, apakah karena ia telah tersungkur, maka ia benar-benar lenyap dari kehdupan manusia? Apakah itu artinya sosialisme menang, dan karena itu sosialisme yang benar? Jangan lupa, sosialisme telah tersungkur kaku tahun 1990, dengan runtuhnya Uni Sovyet sebagai pilar utama penopang sosialisme. Ternyata sosialisme itu tidak ada di Uni Sovyet, yang ada kapitalisme Negara, kapitalisme kaum penguasa, kapitalisme negara.

Ternyata, persoalannya tidak terletak pada sosialisme vs kapitalisme, dan ternyata baik sosialis maupun kapitalis adalah sebuah realitas pola-pikir dan perilaku manusia, yang kedua-duanya mewarnai kehidupan ini.

Akan tetapi tahukah kita, apa dampaknya? Penderitaan panjang yagn dialami banyak bangsa di dunia, termasuk penderitaan bangsa Papua, ialah dampak langsung dari Perang Dingin, akibat konflik pemikiran dan pendekatan antara kaum kapitalis dan sosialis, yang kita kenal dengan nama “perang dingin”.

Perang Melawan Terorisme vs Rekayasa (Real atau Rekayasa?)

Dua dekade belakangan dunia disajikan dengan perang melawan terorisme, atau yaitu Samuel Phillips Huntington sebut sebagai “Clash of Civilisations”, yaitu peperangan antara peradaban barat dan peradaban timur secara garis besar. Perang ini sedang berlangsung sampai hari ini, 04 Agustus 2019.

Huntington membagi peradaban ke dalam tujuh buah: Barat, Latin American, Confucian, Japanese, Islamic, Hindu and Slavic-Orthodox (Huntington 1993:26)

Huntington argues that the end of ideological confrontation between liberal democracy and communism will see future conflict occurring along the borders between civilizations at a micro level. At a macro level he predicts conflict occurring between states from different civilizations for control of international institutions and for economic and military power (Huntington 1993:29) <https://www.onthisday.com/world/clashofcivilizations.php>

Clash yang terjadi saat ini sedang terjadi dengan nyata. Di Melanesia kita lihat isu keamanan dan terorisme menjadi fokus kegiatan lembaga-lembaga regional seperti Pacific Islands Forum (PIF) dan Melanesian Spearhead Group (MSG). Banyak pemimpin Melanesia sekarang digiring ke supaya mereka tidak percaya dengan diri sendiri, budaya sendiri, identitas sendiri dan takut akan serangan teroris.

Melanesia tidak memiliki peradaban yang harus berkonflik dengan siapapun. Kita berada dalam dunia yang tidak berkonflik dengan siapapun. Kita berada di dalam dunia sendiri, di wilayah hukum sendiri.

Huntington menyatakan “benturan peradaban” yang dia maksudkan dipicu oleh muncul-nya peradaban non-barat yang lebih berkuasa atas peradaban barat, dan karena itu barat akan memberikan tanggapan terhadapnya. Akan tetapi itu tidak terjadi, justru yang kita alami hari ini ialah serangan fajar dari peradaban barat terhadap semua peradaban lain yang dianggapnya sebagai saingan atau ancaman terhadap peradaban barat. Mereka menggunakan “early warning system”, dengan semboyan, “untuk menang lebih baik menyerang duluan daripada diserang duluan”.

Banyak sekali kontroversi seputar pemikiran ini, yang saya pikir juga belum akan tuntas, sama dengan kontroversi dan debat pemikiran kapitalis vs sosialis.

Global Warming Real vs. Rekayasa, dan karena itu “Unreal”

Saya bisa katakan pada waktu bersamaan, tetapi bisa juga dikatakan satu dekade sesudah “clash of civilisations” menjadi pemberitaan, atau satu dekade sebelum itu, telah muncul argumen dan debat yang sengit di kalangan akademia dan pemikir, tentang jawaban atas pertanyaan ini:

  • Apakah pemanasan Bumi sebuah realitas atau sebuah pembohongan karena tidak nyata?

Secara khusus di dunia barat sudah terbagi dalam dua kelompok besar, yang setiap saat berkelahi sampai babak-belur. (Maksud saya di sini bukan babak-beluar secara fisik dan secara emosional seperti kebiasaan orang West Papua, yang selalu menyerang gagasan dan konsep dengan sentimen pribadi dan suku atau agama, atau ras)

Yang Percaya Pemanasan Bumi itu Nyata

Ada ilmuwan, ada politisi, ada teknokrat, ada teokrat, ada pengusaha, ada aktivis, ada masyarakat adat yang benar-benar percaya dan oleh karena itu mereka serius mengkampanyekan ancaman dan realitas dampak dari penipisan lapisan ozone yang melindungi planet Bumi menjadi tempat yang layak-huni bagi kehidupan, yang berakibat pemanasan global, yang berdampak terhadap perubahan iklim dunia.

Contoh kita ambil dari Amerika Serikat ialah Bill Clinto, Al Gore dan Barack Obama dari Partai Demokrat Amerika Serikat. Mereka telah banyak mengambil kebijakan-kebijakan nyata untuk mengundang manusia merubah pola-pikir dan perilaku yang merusak alam, kepada pola-pikir dan kebiasaan yang dapat memelihara alam sekitar.

Albert Arnold Gore Jr yang adalah wakil presiden Amerika Serikat yang ke-45 (dari 1993 – 2001) secara khusus hari ini setiap saat berkampanye tentang pemanasan Bumi itu real, dan perubahan iklim itu real, dan oleh karena itu harus ada perubahan pola-pikir dan perubahan kebijakan pemerintah di sleuruh dunia untuk menghadapinya.

Ada sejumlah langkah konkrit yang telah diambil, terutama oleh Amerika Serikat dan sekutunya negara-negara industri maju, dengan mengajak negara-negara lain di dunia, sebagai tanggapan manusia terhadap penipisan lapisan ozone, pemanasan Bumi dan perubahan iklim global:

  1. The United Nations Conference on Environment and Development (UNCED), juga dikenal sebagai Rio de Janeiro Earth Summit, the Rio Summit, the Rio Conference, dan the Earth Summit (Portuguese: ECO92), ialah sebuah United Nationsconference besar yang diselenggarakan di Rio de Janeiro dari 3 – 14 Juni 1992.
  2. The Kyoto Protocol ialah sebuah treaty antar-bangsa yang mengembangkan lebih lanjut dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) 1992 . 
  3. The Paris Agreement (FrenchAccord de Paris)[3] yaitu sebuah perjanjian di dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), berhubungan dengan greenhouse-gas-emissions mitigationadaptation, and finance, ditanga-tangani pada 2016. 

Belakangan ini kita lihat Sekretaris-Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa berkunjung ke kawasn Pasifik Selatan, terutama Republik Kepulauan Vanuatu dan Fiji, dan menyatakan apa yang dialami dan modal yang dimiliki masyarakat di Melanesia perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan dalma rangka menghadapi ancaman pemanasan Bumi dan perubahan iklim.

Yang Tidak Percaya Penipisan Lapisan Ozone dan Pemanasan Bumi

Kita bisa sebut kelompok ini dalam empat variasi

  1. Variasi pertama, ialah orang “kafir alam”, yaitu mereka yang sama sekali tidak percaya perubahan itu sedang terjadi. Mereka inilah musuh utama yang berkelahi babak-belur dengan pihak yang percaya tentang perubahan iklim benar-benar ada. Banyak penelitian telah dilakukan, banyak artikel telah ditulis, banyak buku telah dipublikasi, dijual dan diseminarkan di berbagai lembaga pendidikan, forum ilmiah dan debat ilmiah mapun debat politik, yang menunjukkan betapa mereka yang tidak percaya akan pemanasan global sangat sengit menentang pandangan yang percaya terjadi pemanasan global.
  2. Variasi kedua, mereka yang memang percaya perubahan itu selalu terjadi, dan pasti terjadi, tetapi penyebabnya bukan apa yang dilakukan peradaban modern, tetapi itu sebuah fakta alamiah, yang pada gilirannya akan teratasi secara alamiah pula, dan oleh karena itu manusia tidak usah menjadi pahlawan Bumi, kita jalani saja kehidupan kita dan alam ini akan menyelesaikan persoalan yang terjadi secara alamiah.
  3. Variasi ketiga, mereka yang percaya bahwa perubahan itu memang sedang terjadi, oleh karena itu manusia tidak perlu melakukan apa-apa-pun, karena ini sudah tertulis dalam Kitab Suci, bahwa dunia ini tidak ada yang abadi. Yang harus kita lakukan ialah semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, menggali kebenaran ilahi dan bertekun di dalam Tuhan. Mereka juga berdalih bahwa dunia ini hanyalah tempat sementara, oleh karena itu kita tidak harus sibuk mengurus kepentingan dunia, masalah dunia ini, kita fokus kepada tanah air kekal, surga yang kekal.
  4. Variasi keempat ialah mereka yang percaya perubahan iklim itu terjadi, dan mereka juga percaya manusia dan apa yang dilakukan manusia-lah yang menyebabkan malapetaka bencana alam, kehilangan pulau-pulau kecil, kelaparan dan konflik yang terjadi di dunia ini. TETAPI yang mereka tidak percaya ialah kekuatan dan kemampuan manusia untuk merubah arah dan kecenderungan manusia. Mereka tidak percaya bahwa manusia mampu merubah nasib

Di Amerika Serikat kita bisa pantau dari orang-orang seperti George Walker Bush, Sr, dan George Walkter Bush, Jr. dan Donal Trump, tiga orang Presiden dari Parta Republik Amerika Serkiat. Di Inggris kita lihat dari Alexander Boris de Pfeffel Johnson, yang pada saat saya tulis artikel ini ialah Perdana Menteri Inggris Raya.

Banyak protes dan penolakan muncul dari manusia di dunia terhadap realitas bahwa Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat dan Boris Johnson menjadi Perdana Menteri Inggris Raya.

Kita akan ulas ciri utama, fenomena dan dinamika yang terjadi dalam wacana maupun perilaku dalam artikel berikut.

    Print       Email

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like...

Akan Terjadi, Semua Rumah Sakit Menjadi Rumah Sehat: Mengapa? (3)

Read More →
YIKWANAK.com