Pages: 1 2
Jadi Salahnya Apa, Benarnya Apa?
Jadi salahnya para dukun dan Dokter Alam/Adat ialah mereka tidak mampu menjelaskan apa yang mereka lakukan secara empirik dan rasional. Itulah sebabnya manusia modern dengan premis “sains” dan beberapa sub-premis tadi menolak mentah-mentah.
Jadi, salahnya agen-agen modernisasi ialah mereka tidak sanggup melihat realitas mutlak bahwa dunia ini terdiri dari banyak dimensi, dan realitas dunia ini juga muli-dimensi. Yang dapat dipahami otak manusia, dan yang dapat dilihat sangat dan sangat terbatas. Manusia dalam tubuh ini sangat terbatas. Oleh karena itu tidak akan sanggup, sampai kapanpun memahami dan menjelaskan semua hal secara rasional, apalagi empirik.
Modernisasi harus datang kepada pengakuan bahwa premis dasar “rasionalitas manusia di atas segala-gala” sudah harus ditinggalkan dan mengakui realitas sesungguhnya tentang kehidupan ini. Kita harus keluar dari otak dan rasionalitas manusia, kepada hati dan kesadaran semesta. Kita harus sanggup menempatkan diri bukan sebagai pusat dan kendali kehidupan, tetapi sebagai bagian dari kendali dan pusat kehidupan yang ada di luar diri manusia.
Kepintara manusia tentang apapun, terutama ilmu agama dan ilmu tentang kehidupan dan kematian haruslah dibedah dan dibawa kepada realitas mutlak, bukan realitas sebatas yang dapat dilihat dan dipahami, yang dapat diukur dan dijelaskan.
Jadi, benarnya para dukun atau dokter alam dan dokter adat ialah mereka telah mencari, meramu dan memelihara keafiran warisan nenek-moyang manusia sebelum modernisasi ini secara baik. Kebaikan mereka ini patutlah dihargai, dan ditempatkan pada posisi yang tepatguna, sehingga kita tidak tertipu oleh rasionalitas sempit buatan manusia sendiri.
Jadi, benarnya agen-agen modernisasi di bidang kesehatan ialah mereka memiliki visi dan misi untuk membantu umat manusia agar terbebas dari sakit-penyakit. Akan tetapi mereka terbawa arus bisnis, kepentingan ekonomi pribadi dan kelompok menghapus kepentingan kemanusiaan. Manusia semakin tercerai-berai antara satu dengan yang lain, kekerabatan telah terhapus, karena kepentingan ekonomi untuk bertahan hidup di dunia yang “serba uang” yaitu kehidupan modern telah memaksa manusia untuk keluar dari “kemanusiaan”, dan berpikir lebih utama tentang “keekonomian” dari semua pemikiran, perkatan dan perilaku.
Komentar Penutup
Kita keluar dari posisi memihak kepada siapa-siapa. Kita menjadi salah satu makhluk yang menonton sejarah manusia bergulir dari awal sampai hari ini, bahkan sampai besok dan lusa. Maka menarik untuk disaksikan film documenter riwayat kehidupan manusia itu dalam bidang kesehatan, perobatan, farmasi dan bisnis kesehatan pada umumnya.
Satu hal sudah pasti. Begitu manusia menjadi tercerahkan oleh sains maka kita telah tiba sampai hari ini, di mana kehidupan menjadi tidak teratur, banyak penyakit merajalela, bahkan sampai penyakit maut tak tersembuhkan pun sudah banyak.
Kita sedang memandang ke depan akan kebutuhan pencerahan kembali untuk merangkul warisan nenek-moyang umat manusia, untuk memperlakukan “kehidupan” secara keseluruhan secara kodrati – alamiah.
Kita harus meninjau ulang orientasi kehidupan yang antroposentris, di mana manusia menjadi pusat dari segala-sesuatu, dan pusat itu bertumpu pada rasionalitas dan empiritisme.
Kita harus mulai melangkah atau merubah arus dari perjalanan hidup kita sebagai makhluk manusia. Kita harus belajar untuk mempertanggung-jawabkan hidup ini kepada diri sendiri, tidak menolak nasib hidup-mati saya kepada dokter, perawat, rumah sakit. Namanya saja “rumah sakit”, bukan “rumah sehat”, kok manusia pada antrian di sana? Cari apa? Tentu cari sakit! Karena itu rumah sakit!
Rumah sehat ada di sini, di rumah kita, di kampung kita, di hutan kita, di tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Yang pusing keliling atas kesakitan kita adalah sanak-keluarga, kerabat dan tetangga kita. Mari kita belajar percaya kepada diri sendiri, kepada kerabat-keluarga dan kepada tetangga, dan di atas itu kepada alam-semesta ciptaan Tuhan, dan melepaskan diri dari perbudakan dan perhambaan oleh ilah dokter, ilah rumah sakit, ilah obat, yaitu buatan manusia atas dasar ketamakan belaka, untuk kepentingan ekonomi belaka.
Yang ketiga karena … {bersambung….]
Pages: 1 2
[…] kedua juga sudah sampaikan dalam catatan sebelumnya, Click di sini, yaitu bahwa manusia semakin lama semakin mendapatkan akses kepada semua kebutuhan dasar yang […]